Tanggal posting, 04 April 2026
Krisis energi global kembali menebar tekanan baru bagi pelaku usaha kecil di Indonesia. Konflik Iran-Israel memicu lonjakan biaya energi, logistik, dan bahan baku. Dampaknya menjalar hingga kebutuhan dasar produksi UKM. Meski harga BBM dalam negeri belum dinaikkan, situasi belum sepenuhnya aman. Harga gandum, kemasan plastik, dan kertas ikut terdorong naik. Tekanan ini muncul dari rantai pasok global yang terganggu. Dalam lanskap itulah KOPITU melihat UKM membutuhkan arah baru. Bukan sekadar bertahan, tetapi menemukan pasar yang belum menjadi sasaran produk impor
KOPITU Melihat Perbedaan Krisis Saat Ini
Ketua Umum KOPITU, Yoyok Pitoyo, menilai krisis kali ini berbeda dari pandemi. Saat pandemi, aktivitas masyarakat dibatasi. Namun daya beli sebenarnya masih tersedia. Ketika itu, UKM masih bisa bergerak melalui bisnis perlindungan kesehatan. Produk seperti masker menjadi solusi cepat yang menjawab kebutuhan pasar. Kini kondisinya berbalik. Aktivitas ekonomi berjalan normal, tetapi perputaran uang di masyarakat melemah. Daya beli menurun, sementara pasar domestik dibanjiri barang impor berharga murah. Situasi tersebut membuat UKM sulit bersaing pada produk umum. Karena itu, KOPITU mendorong pergeseran strategi menuju produk berbasis kebutuhan dasar dan energi alternatif. Briket Batubara dan Biomasa Jadi Ceruk Ekspor Di tengah tekanan pasar domestik, peluang ekspor dinilai lebih menjanjikan. Salah satu sektor yang dilihat potensial adalah briket batubara dan biomass briquette. Permintaan dunia terhadap bahan bakar alternatif terus tumbuh. Briket menawarkan efisiensi panas, biaya terjangkau, dan kebutuhan tinggi di pasar industri serta rumah tangga. Bagi UKM, sektor ini relatif menarik. Indonesia memiliki pasokan bahan baku melimpah, baik dari turunan batubara maupun limbah pertanian. Selain pasar ekspor, peluang lain muncul dari kompor alternatif. Produk ini relevan dengan kondisi masyarakat yang mulai mencari sumber energi hemat. Narasi bisnis ini terasa dekat dengan denyut keseharian. Sama seperti liputan wisata yang menemukan cerita besar dari ruang kecil, peluang UKM lahir dari kebutuhan paling sederhana.
Produk Lokal dari Sekitar Kita
KOPITU juga mendorong UKM mengembangkan pangan alternatif berbahan lokal. Fokusnya adalah bahan yang mudah ditemukan di sekitar lingkungan usaha. Langkah ini penting agar UKM tidak tergantung bahan impor. Selain menekan biaya, model usaha ini memperkuat identitas produk lokal. Langkah ini penting agar UKM tidak tergantung bahan impor. Selain menekan biaya, model usaha ini memperkuat identitas produk lokal. Pendekatan tersebut memberi nilai tambah pada aspek keberlanjutan. Produk menjadi lebih adaptif terhadap krisis global sekaligus dekat dengan kebutuhan masyarakat. Dalam perspektif ekonomi kerakyatan, strategi ini memperbesar peluang usaha tumbuh dari desa, sentra produksi, hingga pasar ekspor.
Momentum UKM Naik Kelas
Krisis energi memang menekan banyak sektor. Namun bagi UKM yang adaptif, tekanan itu justru membuka ceruk baru. Briket batubara, biomasa, kompor alternatif, dan pangan lokal menjadi ruang bisnis yang belum terlalu padat. KOPITU melihat momentum ini sebagai jalan UKM naik kelas. Ketika pasar umum disesaki impor, ceruk kebutuhan dasar justru memberi peluang lebih panjang. Dari sanalah daya tahan UKM Indonesia bisa dibangun kembali.