Menu

Dunia Berebut Energi, Indonesia Punya Singkong, Tebu dan Jagung: KOPITU Dukung Gebrakan Bioetanol Menteri Amran

Tanggal posting, 22 September 2026

Dunia Berebut Energi, Indonesia Punya Singkong, Tebu dan Jagung: KOPITU Dukung Gebrakan Bioetanol Menteri Amran

Oleh: Ketua Umum KOPITU
Komite Pengusaha Mikro Kecil Menengah Indonesia Bersatu

Jakarta — Dunia sedang menghadapi situasi energi yang tidak biasa. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah, gangguan terhadap jalur energi strategis di Selat Hormuz, serta perang Rusia–Ukraina menunjukkan bahwa energi kini bukan sekadar persoalan ekonomi, tetapi telah menjadi bagian penting dari ketahanan sebuah negara.

Selat Hormuz merupakan salah satu jalur energi paling strategis di dunia. Sekitar 20 juta barel minyak dan produk minyak per hari melewati jalur ini pada 2025, atau sekitar seperempat perdagangan minyak dunia melalui laut.

Gangguan terhadap jalur tersebut telah memberikan tekanan besar terhadap rantai pasok energi internasional. Bagi negara-negara Asia, termasuk Indonesia, perkembangan ini harus menjadi perhatian serius.

Indonesia masih membutuhkan impor untuk memenuhi sebagian kebutuhan energinya. Untuk LPG saja, kebutuhan nasional berada di kisaran 8,3 juta ton per tahun, sementara produksi dalam negeri sekitar 1,6 juta ton. Artinya, sekitar 7 juta ton masih harus dipenuhi melalui impor.

Situasi tersebut seharusnya menjadi momentum bagi Indonesia untuk semakin serius memperkuat sumber energi dari dalam negeri.

Dan Indonesia sebenarnya mempunyai modal yang sangat besar.

Kita punya tanah. Kita punya petani. Kita punya tenaga kerja. Kita punya jutaan pelaku usaha mikro dan kecil. Dan kita punya singkong, tebu serta jagung.

Bioetanol: Energi dari Kekuatan Pertanian Indonesia

KOPITU menyambut positif langkah Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman yang mulai menggerakkan pengembangan bioetanol nasional berbasis tiga komoditas utama, yaitu tebu, singkong dan jagung.

Kementerian Pertanian tengah menyiapkan pengembangan kawasan hingga 1–2 juta hektare sebagai fondasi bahan baku industri bioetanol nasional.

Sebanyak 44 bupati dari berbagai daerah juga telah dilibatkan untuk memetakan potensi lahan, komoditas dan kesiapan wilayah masing-masing.

Bagi KOPITU, ini bukan hanya program energi.

Jika dijalankan dengan tepat, bioetanol dapat membuka pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru di daerah.

Ketika jutaan hektare lahan mulai produktif, akan dibutuhkan petani, pekerja pertanian, tenaga panen, operator alat dan mesin pertanian, pengemudi, tenaga logistik hingga tenaga pada sektor pengolahan.

Di belakang mereka akan tumbuh pula usaha mikro dan kecil yang menyediakan bibit, sarana produksi pertanian, bengkel, transportasi lokal, makanan dan minuman pekerja, jasa perawatan mesin, pergudangan serta berbagai kebutuhan pendukung lainnya.

Artinya, setiap kawasan produksi bioetanol berpotensi menciptakan rantai ekonomi baru dari desa hingga industri.

Delapan Juta Lapangan Kerja, Peluang Besar bagi Rakyat

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman memperkirakan pengembangan bioetanol dalam skala nasional berpotensi menciptakan sekitar 8 juta lapangan kerja permanen.

Tentu angka tersebut merupakan potensi yang realisasinya akan sangat bergantung pada skala dan keberhasilan implementasi program.

Namun arah besarnya sangat jelas.

Pengembangan energi berbasis pertanian berpotensi memberikan dampak ekonomi yang jauh lebih luas dibandingkan sekadar nilai bahan bakar yang dihasilkan.

Karena itu, KOPITU berpandangan bahwa petani, tenaga kerja lokal, pengusaha mikro dan pengusaha kecil harus mendapatkan ruang yang besar dalam ekosistem baru ini.

Jangan sampai ketika industri bioetanol berkembang, masyarakat di sekitar kawasan produksi hanya menjadi penonton.

Jangan Hanya Melihat Pabriknya

Ketika berbicara tentang bioetanol, perhatian publik sering langsung tertuju kepada pembangunan pabrik.

Padahal kekuatan sebenarnya dimulai jauh sebelum bahan baku memasuki pabrik.

Ada petani yang menanam.

Ada pekerja yang merawat dan memanen.

Ada usaha mikro yang menyediakan kebutuhan sehari-hari.

Ada pengusaha kecil yang menyediakan transportasi dan logistik.

Ada koperasi, penyedia alat pertanian, bengkel hingga berbagai jasa pendukung lainnya.

Di sinilah KOPITU melihat peluang besar bagi ekonomi rakyat.

Bioetanol jangan hanya melahirkan industri energi baru. Bioetanol harus melahirkan pengusaha-pengusaha baru di daerah.

Dari Ladang Menuju Kemandirian Energi

Situasi geopolitik dunia saat ini memberikan pelajaran penting.

Ketika jalur energi internasional terganggu, negara yang mempunyai sumber energi domestik akan mempunyai ketahanan yang lebih kuat.

Indonesia tidak mungkin selamanya menggantungkan sebagian kebutuhan energinya kepada pasar internasional.

Kita harus mulai melihat kebun tebu, ladang singkong dan hamparan jagung bukan hanya sebagai sumber pangan atau komoditas pertanian.

Semua itu juga dapat menjadi bagian dari masa depan energi Indonesia.

Karena itu KOPITU mendukung langkah Kementerian Pertanian dalam mempercepat pengembangan bioetanol nasional.

Namun KOPITU juga mengingatkan agar transformasi energi ini benar-benar menjadi transformasi ekonomi rakyat.

Petani harus naik kelas.

Tenaga kerja lokal harus mendapatkan kesempatan.

Usaha mikro harus tumbuh.

Usaha kecil harus masuk ke rantai pasok.

Dan sebanyak mungkin nilai ekonomi harus tetap berputar di daerah.

Ketika dunia sedang berebut energi, Indonesia sesungguhnya memiliki pilihan untuk membangun kekuatannya sendiri.

Kita punya singkong.
Kita punya tebu.
Kita punya jagung.

Dan yang jauh lebih penting:

Kita punya jutaan petani, pekerja serta pengusaha mikro dan kecil yang siap menjadi kekuatan kemandirian energi Indonesia.

Ketua Umum KOPITU
Komite Pengusaha Mikro Kecil Menengah Indonesia Bersatu

Cari Berita Berdasarkan Tanggal